Lagi-lagi DKI Jakarta dilanda banjir setelah hujan deras mengguyur. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi sorotan karena bencana banjir terus berulang. Solusi Anies dalam menangani banjir Jakarta pun dipersoalkan.

Sebagaimana diketahui, Jakarta sudah berulang kali dilanda banjir di awal tahun 2020. Tercatat, banjir pernah terjadi pada 1 Januari 2020, 23 Febuari 2020 dan kini 25 Februari 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat 3.565 warga mengungsi akibat banjir 25 Februari 2020. Mereka tersebar di 40 titik lokasi pengungsian.

Anies pun jadi sorotan. Di Twitter, nama Anies dibully. Namun, Anies menyatakan pihaknya sudah bekerja sejak dini hari.

"Jadi sejak dini hari seluruh jajaran Pemprov bekerja di lapangan," kata Anies Baswedan di Pintu Air Manggarai, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Anies memerinci kerja Pemprov DKI Jakarta sejak dini hari itu. Pertama, pemprov melakukan evakuasi. Anies meminta publik mengizinkannya fokus bekerja.

"Penanganannya sedang kami kerjakan, karena itu kalau boleh izinkan kami bekerja sehingga fokusnya pada warga Jakarta," lanjut Anies.

Anies mengatakan fokusnya kali ini memastikan semua warga yang terkena dampak banjir bisa dievakuasi. Kesehatan dan ketersediaan logistik di tempat pengungsian, lanjut Anies, juga menjadi fokus.

"Tempat pengungsian makanannya cukup, kesehatan terjamin sehingga mereka bisa kembali ke rumahnya ketika banjir surut," ujar Anies.

Selain itu, Anies menerangkan bahwa banjir ini karena air lokal, bukan kiriman. "Air yang ada di sini tidak banyak sampah. Artinya air lokal. Jumlahnya cukup besar. Bukan air kiriman," imbuh Anies.

PDIP hingga PAN Pertanyakan Solusi Anies


Lantaran banjir Jakarta terus berulang, Anies juga disorot oleh sejumlah partai di DPRD DKI. Salah satu kritik itu datang dari PDIP. PDIP mengkritik keras kinerja Pemprov DKI Jakarta yang dianggap tak jelas.

"Kerja Pemprov DKI nggak jelas. Banjir 2 hari ini sudah jelas karena buruknya sistem drainase di wilayah DKI, bukan karena banjir kiriman yang melebihi kapasitas tampung sungai di DKI," ujar Ketua DPP PDIP Perjuangan Nusyirwan Soejono kepada wartawan.

Nusyirwan mengatakan, setiap tahun sudah dapat diprediksi kapan musim hujan akan tiba. Menurut Nusyirwan, jika Pemprov DKI bisa menyelesaikan persoalan drainase dengan baik, urusan banjir tentu dapat diatasi.

"Drainase jalan-jalan protokol saja tidak mampu diurus, apalagi di kawasan, di lingkungan lain di bawahnya," tutur Nusyirwan.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani menyebut soal perlunya pendalaman lebih lanjut karena sudah tiga kali banjir besar di Jakarta.

"Kita lihat ada urgensinya kan banjir tiga kali yang parah banget, tahun baru, pertengahan (Januari), sama ini yang parah banget. Ini sesuatu terulang. (Kejadian) pertama ada kiriman dari Katulampa (Bogor), ke dua ke tiga kan hujan lokal," ucap Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani saat dihubungi, Selasa (25/20/2020).

Menurut Zita, Badan Musyawarah (Bamus) sudah memberikan keputusan untuk rekomendasi Pansus Banjir. Disebut Zita, semua fraksi di DPRD sudah sepakat termasuk Fraksi Gerindra.

"Iya dong (ada kesepakatan), kan sudah di-Bamus-kan. Kita semua sepakat isu banjir ini adalah sesuatu yang perlu kita tindak lanjuti," kata politikus PAN itu.

Namun ada pula yang membela Anies. Pembelaan itu datang dari Waketum Gerindra Fadli Zon. Mulanya, elite Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyerang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan gara-gara rumahnya kebanjiran di Twitter. Serangan Hutahaean ditangkis oleh Fadli Zon.

"Bro marilah kita jujur dan cerdas, banjir ini musibah karena siklon tropis, curah hujan besar, bukan salah apalagi karya Anies Baswedan," kata Fadli sembari memention akun Anies Baswedan, Selasa (25/2/2020).

Cara Anies Mencegah Banjir Disorot Tajam


Sejumlah pengamat tata kota pun turut menyoroti Anies. Anies dinilai tidak melakukan pembenahan signifikan pada saluran air di Jakarta.

"Banjir hari ini lebih banyak disebabkan hujan lokal bukan banjir kiriman. Luapan air sungai, luberan air dan saluran air menunjukkan memang tidak ada penanganan pembenahan sungai dan perbaikan saluran air kota yang signifikan," kata pengamat tata kota Nirwono Yoga saat dihubungi, Selasa (25/2/2020).

"Gubernur DKI Jakarta terlihat tidak ada upaya serius pencegahan mengatasi banjir sejak awal Januari hingga banjir hari ini. Tidak ada upaya serius penanganan banjir inilah yang membuat frustrasi warga, terutama warga yang terdampak banjir (lagi) hari ini," sambungnya.

Selain itu, Nirwono menyoroti Anies yang justru fokus mengurusi program-program revitalisasi hingga Formula E. Padahal, menurutnya, seharusnya Anies bisa fokus membenahi bantaran sungai hingga merehabilitasi saluran air.

"Gubernur DKI malah sibuk ngurusin revitalisasi dan Formula E di Monas pascabanjir awal tahun hingga hari ini. Jakarta memang rawan banjir dari dulu. Tetapi yang membedakan antara gubernur serius apa tidak mengatasi banjirnya? Misal mulai dari membenahi bantaran sungai, merehabilitasi saluran air, merevitalisasi situ danau, embung waduk, memperbanyak RTH (ruang terbuka hijau) baru untuk daerah resapan air," tuturnya.

Sementara itu, hal senada juga disampaikan oleh Universitas Trisakti Yayat Supriatna. Yayat mempertanyakan apakah Pemprov DKI pernah melakukan audit terhadap kapasitas sistem drainase di Jakarta. Padahal, menurutnya, hal ini penting dilakukan mengingat curah hujan yang tinggi.

"Tidak pernah ada audit yang menjelaskan kapasitas sistem drainase kita. Untuk perkiraan hujan curah hujannya. Hari ini kan curah hujannya 240 mm hingga hampir 290 mm dalam satu kawasan. Artinya dengan ketinggian curah hujan seperti itu, sistemnya masih bisa apa tidak? Kalau sistemnya tidak bisa diperkirakan, ya sudah, terima masalahnya," ujar Yayat, Selasa (22/2).

Dia kemudian menyoroti kebijakan revitalisasi trotoar yang gencar dikerjakan oleh Anies. Salah satunya ialah revitalisasi trotoar di Cikini, Jakarta Pusat.

"Apakah pembangunan trotoar akhir-akhir ini sudah memmikirkan tumpahan airnya, karena jatuh di jalan. Apakahnya lubangnya terlalu kecil? Hingga akhirnya airnya ngantri. Stasiun Cikini sekarang kebanjiran, jarang itu. Ada kemungkinan besar karena revitalisasi trotoar di Cikini," ungkapnya.

sumber

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya