Ustaz DR Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Alqur'an

Di dalam 40 Hadis pertanda akhir zaman, salah satu hadis tentang wafatnya para ulama dijadikan indikasi bahwa pertanda Kiamat semakin dekat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda:

إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan." (HR Al-Bukhari)

Ibarat seseorang yang ingin merobohkan sebuah rumah, maka benda-benda berharga yang mahal dan bernilai akan dipindahkannya ke tempat lain yang lebih baik. Begitu pula, menjelang akhir zaman, para ulama yang lurus akan diwafatkan satu persatu.

Setelah wafatnya para ulama yang lurus, maka tinggal tersisa sedikit saja para ulama yang benar-benar haq. Inilah ujian bagi umat Islam di akhir zaman.

Kata Sayyidina Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu dalam sebuah atsar yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya':

مَوْتُ أَلْفِ عَابِدٍ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ أَهْوَنُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ بَصِيْرٍ بِحَلاَلِ الّلهِ وَحَراَمِهِ

"Kematian seribu orang ahli ibadah yang rajin salat malam dan puasa di siangnya itu tidak sebanding dengan kematian seorang ulama yang mengerti halal haramnya aturan Allah Ta'ala (syariah)".

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَمِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيُثْبتَ الجَهْلُ

"Sebagian tanda datangnya hari kiamat diangkatnya ilmu dan tinggallah kedunguan."

Selanjutnya, fase berikutnya yang bermunculan hanyalah para ulama yang berorientasi pada kepentingan jabatan dunia serta para penguasa bodoh yang menjadikan ulama sebagai alat mencapai kepentingan jabatannya tersebut. Apakah hal ini sudah terjadi?

Kita lihat hari ini adakah ulama yang dijadikan sebagai alat pendongkrak suara politik? Kita lihat lagi, seberapa besar peran ulama setelah ia memperoleh jabatannya? Demikian fenomena akhir zaman dan duka kita atas kehilangan para ulama yang lurus.

Wallahu A'lam
\
sumber

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya